“ Kalau nggak ada Sungai Nil, pasti nggak ada Mesir, nggak ada peradaban. Yang ada hanya gurun pasir…itu jodoh”
If you have read or watched `Ayat-ayat Cinta’, you will definitely have the idea of my Fahri. I just started reading the novel but I’ve watched the movie. I’ve watched my Fahri for 3 times. My Fahri in the story belongs to Maria, a qibthi and Aisha, a true muslimah. You have to know the story to understand my Fahri.
My Papa is my Papa. Love of my life. My Papa is brilliant. The way he thinks, he talks, he leads, the way he brought up all 7 of us, the way he brings himself and the way he loves. My Papa belongs to Nik Nooraini, my Mi, for 41 years now.
“…kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat, bahwa aku dilepas dengan linangan airmata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak-saudara.”
Fahri, Indonesian yang menuntut di Al-Azhar, Cairo. Luarannya seakan pemuda biasa yang simple, humble dan lembut perbicaraannya dan tingkah lakunya. Fahri dihormati di atas keperibadiannya dan ilmu yang dimilikinya. Dikagumi akhlaknya serta his good look is being adored by many muslimah. However, kaum Hawa adalah yang digeruni olehnya. Fahri amat menghormati kaum ini, his colleagues, bondanya, dan Maria. Even so, as he has completed his aims, there was only one task he needed to complete or maybe a wish he wished to achieve…iaitu, bernikah!
Fahri merasakan sangat rumit untuk memilih bidadari yang bakal menemani hidupnya buat selamanya…and so…
Papa, anak jati Kelantan, yang berkelulusan Master dari Al-Azhar, Cairo. From the pictures I’ve seen, Papa memang tidak kurang hebatnya, and needless to say about his excellent achievement in education. Sebelum kembalinya Papa ke tanahair, on one summer holiday, July 1965, Papa went to Macca to spend his holiday with his father . To his surprise, Papa dicadangkan supaya berkahwin dengan gadis Arab keturunan Patani yang menetap di Jabal Kubis. Papa merupakan seorang yang tekun dan tahu priority hidupnya. Perasaan untuk maju jauh menguasai diri sehingga tiada ruang untuk memikirkan soal perempuan, apalagi berkawan. Papa kata, `takut’… Surat diutuskan dari pihak gadis Arab itu tanda persetujuan. Papa hanya menurutkan saja namun, kesudahannya berbeda. Gadis berketurunan Patani itu menetap di Mekah, maka, diturutkan permintaan bonda tercinta, lebih elok sekiranya bidadari yang bakal menemani hidup Papa selamanya, adalah yang berdekatan asal usulnya.
`Sesungguhnya pengetahuan Allah itu Maha Besar dan mencakupi seluruhnya. Kehendak dan KuasaNya mengatasi segala-galanya.’
So what’s with my Fahri?
“Memiliki istri solehah adalah dambaan…aku gambel kotor dan dia bidadari tanpa noda.”
Fahri pernah ditanya, seandainya bisa dia menerima muslimah bukan dari Indonesia. Maka jawabnya, semuanya mudah jika dia gadis solehah. Namun, permintaan bonda di desa,
“Jika istrimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis solehah yang dari Indonesia.”
Sesungguhnya, tiada yang lebih bermakna dari doa, harapan dan restu seorang ibu buat anaknya. Hiba perasaan keduanya, mengingati amanat dan kata-kata seorang ibu yang jauh di kampung halaman. Keegoan seorang lelaki bukan lagi persoalannya bila hati nurani terusik dan dititiskan air mata rindu, kasih dan sayang buat bonda yang tercinta.
“…aku tak akan menghulurkan tangan kepada seorang gadis kecuali gadis itu yang menarik tanganku…Bukan suatu keangkuhan, tapi karena rasa rendah diriku yang selalu menggelayut di kepala…aku adalah lumpur hitam.”
“…hati tersangkut, tetapi sedikit gobar… saya adalah orang kampung…sedangkan dia seorang gadis moden…”
Sesungguhnya, Allah yang menentukannya. Lumpur hitam mahupun orang kampung ditetapkan menjadi makhluk yang dianugerahi kenikmatan cinta, rindu dan bidadari putih suci bernama Aisha dan Nik Noorani. Sudah tertulis jodohnya buat my Fahri dan Papaku. Sekembalinya Papa ke tanah air, Papa dipertemukan dengan jodohnya, Nik Nooraini…bondaku.
Fahri memiliki kisah hidupnya. Papa bercerita tentang susah peritnya. Tiada bedanya antara my Fahri dan Papaku. Teguh imannya dan molek peribadinya. Janji ditepati, amanat dituruti, bahagia dimiliki. Tiada Papa, tiadalah Mi…tiada Mi, tiadalah Nini, Wani, Wadi, Nani, Wahdani, Amani dan Hamdi.
“Kamu percaya pada jodoh Fahri?”
“Ya, setiap orang memiliki…”
“…jodohnya masing-masing. Itu yang selalu kamu bilang. Aku rasa Sungai Nil dan Mesir, itu jodoh. Senang ya, kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit.”
“Bukan dari langit Maria, tapi dari hati…dekat sekali.”
My Fahri adalah fantasi dan Papaku adalah realiti. Jodohku, juga realiti. Sekiranya tertulis olehNya, direstui bonda dan ayahanda, maka aku terima dengan penuh kesyukuran.
I shall have my own Fahri…InsyaAllah!
Happy belated bday my dear sweetie.... I’m wishing you another year of laughter, joy and fun, surprises, love and happiness,... read more
on Thanks adik...and all!